Pernahkah Anda membaca laporan tahunan setebal bantal yang
isinya hanya narasi kosong dan foto seremonial? Di era regulasi ketat saat ini,
dokumen semacam itu bukan lagi sekadar formalitas, melainkan tiket mati bagi
reputasi perusahaan. Regulator kini menuntut data konkret yang tidak bisa
dikarang oleh penulis naskah biasa tanpa pemahaman teknis.
Banyak perusahaan panik ketika Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
atau bursa global menagih data emisi dan dampak sosial yang terverifikasi.
Masalah utamanya bukan pada ketiadaan data, melainkan ketidakmampuan tim
internal untuk mengolahnya sesuai standar. Inilah titik krusial di mana
pelatihan menjadi jembatan antara kepatuhan hukum dan kemampuan eksekusi.
Mengapa Laporan Keberlanjutan Kini Menjadi Momok?
Dulu, laporan keberlanjutan hanyalah aktivitas sukarela bagi
perusahaan yang ingin terlihat "hijau" di mata publik. Sekarang,
regulasi mewajibkan pelaporan yang terperinci, terstandar, dan dapat
dipertanggungjawabkan secara hukum. Kegagalan menyajikan data yang akurat bisa
berujung pada sanksi administratif hingga pembekuan perdagangan saham.
Kompleksitas ini menuntut pemahaman mendalam tentang ekonomi
berkelanjutan yang sebenarnya. Tanpa pengetahuan dasar ini, tim penyusun
laporan akan kesulitan memilah mana informasi yang relevan dan mana yang
sekadar sampah data. Akibatnya, laporan menjadi tidak fokus dan gagal memenuhi
ekspektasi regulator.
Kesenjangan Kompetensi yang Mengkhawatirkan
Banyak perusahaan menunjuk departemen keuangan atau
sekretaris perusahaan untuk menyusun laporan ini secara mendadak. Masalahnya,
menyusun neraca keuangan sangat berbeda dengan menghitung emisi karbon atau
mengukur dampak sosial. Tanpa pemahaman tentang ESG coverage, laporan
yang dihasilkan sering kali cacat logika.
Seringkali terjadi ketidakcocokan antara klaim manajemen
dengan data pendukung yang disajikan di lampiran. Celah kompetensi ini menjadi
sasaran empuk bagi auditor eksternal dan analis saham yang kritis. Pelatihan
intensif diperlukan untuk menutup jurang pemahaman ini sebelum laporan
dipublikasikan.
Kompetensi Teknis yang Wajib Dikuasai
Pelatihan ESG yang efektif tidak hanya membahas teori makro,
tetapi masuk ke ranah teknis penyusunan laporan. Peserta harus dibekali
kemampuan spesifik agar laporan mereka "audit-ready" atau siap
diperiksa. Berikut adalah keterampilan teknis utama yang harus dibangun:
Pengumpulan dan Validasi Data
Peserta diajarkan cara mengumpulkan data non-keuangan yang
valid dari berbagai divisi operasional. Mereka belajar teknik verifikasi agar
angka yang disajikan tahan terhadap uji tuntas pihak ketiga. Ini mirip dengan
akuntansi, namun dengan variabel alam dan manusia.
Pemahaman Standar Global
Dunia pelaporan penuh dengan singkatan standar seperti GRI,
SASB, dan ISSB yang membingungkan bagi pemula. Melalui certification
programs, tim Anda akan memahami standar mana yang paling relevan untuk
sektor industri Anda. Pengetahuan ini mencegah pemborosan waktu dalam
mengumpulkan data yang tidak diminta oleh standar tersebut.
Peran Teknologi dan Akuntan
Profesi akuntan kini berada di garis depan pelaporan
keberlanjutan karena kedisiplinan mereka terhadap integritas data. Namun,
mereka perlu beradaptasi dengan tantangan baru dalam embracing the AI era
untuk mengolah big data lingkungan. Teknologi membantu mempercepat proses,
tetapi logika manusia tetap memegang kendali analisis.
Integrasi sistem digital dalam pelaporan juga membutuhkan
kompetensi baru dari penggunanya. Tim IT dan keberlanjutan harus duduk bersama
untuk memastikan aliran data berjalan lancar. Pelatihan lintas fungsi menjadi
solusi untuk menyelaraskan bahasa teknis kedua divisi ini.
Langkah Memulai Transformasi Pelaporan
Jangan menunggu surat teguran dari regulator datang ke meja
direksi Anda baru mulai bertindak. Persiapan dini melalui peningkatan kapasitas
SDM adalah investasi perlindungan terbaik. Berikut adalah langkah praktis yang
bisa segera Anda lakukan:
- Lakukan
audit kesenjangan keterampilan tim penyusun laporan saat ini.
- Daftarkan
tim inti ke pelatihan yang berfokus pada standar pelaporan spesifik
(misal: POJK 51 atau GRI).
- Terapkan
simulasi penyusunan laporan untuk mengidentifikasi titik lemah data.
Selain itu, pastikan pelatihan mencakup aspek strategi sustainable
finance agar laporan Anda menarik bagi investor. Laporan yang baik
menceritakan kisah pertumbuhan bisnis yang bertanggung jawab.
Mengubah Beban Menjadi Aset
Kewajiban pelaporan adalah realitas bisnis yang tidak bisa
ditawar lagi dalam lanskap ekonomi modern. Membekali tim dengan pelatihan yang
memadai adalah satu-satunya cara untuk memastikan ketenangan pikiran saat musim
pelaporan tiba. Jangan biarkan ketidaktahuan tim menyeret perusahaan ke dalam
masalah hukum yang tidak perlu.
Apakah tim Anda sudah siap menghadapi periode pelaporan
tahun ini dengan percaya diri?
Kami di SEL SEA siap membantu Anda menghadapi kerumitan
standar pelaporan ini dengan kurikulum yang praktis dan teruji. Tim ahli kami
memiliki pengalaman panjang dalam membimbing perusahaan menyusun laporan yang
patuh dan berkualitas tinggi. Hubungi kami untuk ESG
training dan Sustainability dan pastikan laporan keberlanjutan Anda
menjadi aset strategis perusahaan.











