Flash News
Diberdayakan oleh Blogger.
Mail Instagram Pinterest RSS
Siapa Romadhon?

BEM Rayakan Dies Natalis Unikama ke-69 dengan Perkuat Moderasi Beragama

MALANG – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) sukses menyelenggarakan acara Silaturahim dan Dialog Kebangsaan sebagai rangkaian perayaan Dies Natalis Unikama ke-69, Sabtu (11/04/2026). Acara yang mengusung tema "Moderasi Beragama: Menangkal Radikalisme di Kampus" ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa, FKAUB Malang Raya, Ormas Keagamaan, dosen, Jajaran Pengurus PPLP-PT PGRI Malang, dan Pejabat Struktural Unikama di Auditorium Multikultural. Kegiatan ini diawali dengan sesi silaturahim lintas Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) dan Organisasi Daerah (Orda) untuk mempererat solidaritas di lingkungan internal kampus. Wakil Presiden Mahasiswa, Achmad Zakaria, menyatakan bahwa mahasiswa memiliki peran krusial sebagai agen perubahan sekaligus penjaga nilai-nilai inklusivitas di tengah keragaman keyakinan. Mahasiswa Semester 6 Prodi Pendidikan Ekonomi ini menyampaikan terima kasih ada semua pihak atas suksesnya kegiatan perdana program kerja BEM. “kami sangat berterima kasih pada semua pihak, teruta pihak kampus yang mendukung penuh kegiatan ini sebagai bagian dari perayaan Dies Natalis ke-69”, ungkapnya.
Dalam sambutan pembukaan, Dr. Choirul Huda, M.Si Wakil Rektor Bdang Akademik dan Kemahasiswaan menegaskan bahwa generasi muda khususnya mahasiswa perlu memiliki pemahaman yang utuh terhadap bahaya radikalisme. Ia menilai, kampus memiliki peran strategis sebagai ruang pembentukan karakter sekaligus benteng ideologi. “Moderasi beragama menjadi sarana penting untuk menjaga keseimbangan antara hak beragama dan komitmen kebangsaan, sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara dapat berjalan damai, toleran dan penuh kedamaian,” ujar Pria asal Pasuruan. Kegiatan ini menghadir Tokoh Nasional yang kerap kali menyuarakan Radikalisme, Islah Bahrawi sebagai narasumber utama. Narasumber yang juga Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia mengungkapkan bahwa komunikasi adalah segalanya. Kita seharusnya tidak peduli dengan sekat sekat apa pun. Karena sekat itu justru akan menghambat langkah dan pemikiran kita untuk maju dan berkembang. Menurut Cak Islah, persoalan radikalisme tidak bisa dilepaskan dari cara orang memahami ajaran agama secara sempit. Ia menegaskan bahwa tidak ada agama yang melegitimasi kekerasan.
“Tidak ada satu agama apapun mengajarkan kekerasan. Semua ajaran agama pada dasarnya saling berkorelasi dalam kebaikan. Akhlakul karimah adalah tolak ukur keberagaman yang baik. Kita patut menghargai siapa pun, selama akhlak dan perilakunya baik,” ungkap Pria asal Bangkalan. Ia juga menekankan pentingnya empati dalam kehidupan sosial yang majemuk. “Sejatinya, keberagaman adalah anugerah terbesar yang diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa kepada kita semua, khususnya bangsa Indonesia,” tambahnya. Diskusi berlangsung hangat dengan berbagai tanggapan dari peserta, mulai dari mahasiswa hingga perwakilan organisasi. Pertanyaan yang muncul banyak seputar pada pengalaman langsung menghadapi perbedaan serta tantangan menjaga inklusifitas di lingkungan kampus.
Acara ditutup dengan doa lintas agama dan foto bersama yang disaksikan oleh seluruh hadirin, menciptakan suasana penuh kekeluargaan dan optimisme bagi masa depan bangsa. (Mr. Dont)