Dunia akuntansi sedang mengalami evolusi terbesar dalam satu
dekade terakhir. Jika selama berabad-abad fokus utama seorang akuntan adalah
mencatat transaksi keuangan dan memastikan neraca seimbang, kini peran tersebut
meluas jauh melampaui angka-angka fiskal. Di tengah krisis iklim global dan
tuntutan transparansi yang lebih tinggi, muncul sebuah paradigma baru yang
mengguncang standar industri: Sustainable Finance atau keuangan
berkelanjutan.
Perubahan ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan respons
terhadap kebutuhan pasar yang menginginkan laporan bisnis tidak hanya
mencerminkan keuntungan (profit), tetapi juga dampak terhadap manusia (people)
dan planet (planet). Akuntan masa kini dituntut untuk menjadi garda
terdepan dalam mengukur, melaporkan, dan memverifikasi data non-keuangan yang
berkaitan dengan isu lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).
Mengapa Keuangan Berkelanjutan Menjadi Prioritas Global
Keuangan berkelanjutan merujuk pada proses mempertimbangkan
aspek lingkungan dan sosial dalam pengambilan keputusan investasi. Hal ini
bertujuan untuk mengarahkan aliran modal menuju proyek-proyek yang mendukung
ekonomi rendah karbon dan inklusivitas sosial. Bagi perusahaan, ini berarti
mereka harus mampu membuktikan bahwa operasional mereka tidak merusak ekosistem
atau melanggar hak asasi manusia demi mendapatkan kucuran modal dari investor.
Akuntan memiliki peran krusial dalam ekosistem ini. Mereka
adalah pihak yang paling kompeten dalam menyusun standar pelaporan yang
kredibel. Tanpa akuntansi yang tepat, risiko greenwashing—di mana
perusahaan memberikan kesan palsu tentang keramahan lingkungan mereka—akan
sangat tinggi. Oleh karena itu, integritas data ESG kini memiliki bobot yang
sama pentingnya dengan data audit keuangan tradisional.
Untuk menghadapi pergeseran ini, banyak profesional mulai
membekali diri dengan pemahaman teknis melalui sustainability
certification. Sertifikasi ini memastikan bahwa seorang akuntan
memiliki metodologi yang diakui secara internasional untuk melakukan audit
terhadap dampak keberlanjutan sebuah organisasi.
Peluang Karir Baru di Sektor Akuntansi dan Keuangan
Munculnya keuangan berkelanjutan menciptakan spektrum
pekerjaan baru yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan dalam buku teks
akuntansi konvensional. Kini, posisi seperti ESG Controller, Sustainability
Assurance Provider, hingga Carbon Accountant menjadi posisi yang
sangat dicari oleh perusahaan multinasional dan firma audit besar.
Peluang ini tidak hanya terbatas pada pencatatan emisi
karbon. Akuntan masa depan juga terlibat dalam menilai risiko iklim terhadap
aset perusahaan, menghitung nilai ekonomi dari keanekaragaman hayati, hingga
menyusun strategi pembiayaan melalui Green Bonds (Obligasi Hijau). Ini
adalah masa keemasan bagi mereka yang ingin menggabungkan keahlian analitis
angka dengan kepedulian terhadap isu-isu global.
Besarnya potensi ini tercermin dalam
peluang baru profesi akuntansi di era keuangan berkelanjutan, di
mana peran akuntan bergeser menjadi penasihat strategis yang membantu
perusahaan bernavigasi di tengah ketidakpastian iklim. Perusahaan tidak lagi
hanya mencari orang yang pandai menghitung pajak, tetapi mereka yang mampu
memberikan wawasan tentang bagaimana keberlanjutan dapat meningkatkan nilai
valuasi jangka panjang.
Standar Pelaporan Internasional dan Kesiapan Indonesia
Indonesia, sebagai salah satu kekuatan ekonomi di Asia
Tenggara, tidak luput dari tuntutan ini. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah
mengeluarkan peta jalan keuangan berkelanjutan yang mewajibkan lembaga jasa
keuangan dan perusahaan publik untuk menyampaikan laporan keberlanjutan. Hal
ini sejalan dengan standar global yang dikeluarkan oleh International
Sustainability Standards Board (ISSB).
Bagi para akuntan di Indonesia, tantangan utamanya adalah
menguasai kerangka kerja pelaporan yang terus berkembang. Kemampuan untuk
mengumpulkan data dari berbagai departemen—seperti konsumsi energi dari bagian
operasional atau data keberagaman dari bagian HR—dan menyajikannya dalam sebuah
laporan yang koheren adalah skill set yang wajib dimiliki.
Kesimpulan: Adaptasi atau Tertinggal
Dunia sedang berubah, dan profesi akuntansi harus berubah
bersamanya. Keuangan berkelanjutan bukan lagi menjadi opsi tambahan dalam
laporan tahunan, melainkan inti dari strategi bisnis masa depan. Akuntan yang
mampu beradaptasi dengan menguasai prinsip-prinsip ESG akan memiliki keunggulan
kompetitif yang signifikan di pasar kerja global.
Investasi dalam literasi keberlanjutan hari ini adalah
jaminan untuk relevansi karir di masa depan. Dengan memahami bagaimana
nilai-nilai sosial dan lingkungan memengaruhi performa finansial, akuntan tidak
hanya sekadar menjadi pencatat sejarah perusahaan, tetapi juga arsitek masa
depan yang lebih hijau dan adil.











